Kepala KPPN Tanjungpandan, Pemimpin Harus Cerdas Berkomunikasi

//Salah Satu Faktor untuk Menuju Keberhasilan
Rd Yen Yen Nuryeni.

BELITUNG – Kepala KPPN Tanjungpandan Rd Yen Yen Nuryeni menyatakan, sebagai seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan berkomunikasi. Karena, komunikasi merupakan salah satu faktor untuk menuju keberhasilan.

Namun, pemimpin era sekarang mempunyai kemampuan interpersonal skill masing-masing untuk menghadapi tantangannya. Baik secara situasional maupun profesional. Oleh karenanya, konsultan training kepemimpinan kian bertambah dalam satu dasawarsa terakhir. Bahkan, di Indonesia, merambah ke dunia birokrasi.

Baca juga :

“Bicara soal leadership, memang menarik untuk dibicarakan. Bahkan, selalu menjadi topik hangat, setiap kali ada pembahasan. Namun perlu juga kita sadari, bahwa setiap orang adalah pemimpin. Yaitu, memimpin diri sendiri. Karena itu, pemimpin tidak hanya selalu identik dengan organisasi, birokrasi dan lain sebagainya,” ujar ibu tiga anak itu kepada dunieusaha.com, (25/6) siang.

Rd Yen Yen Nuryeni mengatakan, menurut salah seorang pakar komunikasi, ada tiga gaya kepemimpinan tersebut. Yaitu, Direktif, Suportif dan Partisipatif. Ia menjelaskan, kepemimpinan direktif, yakni, gaya kepemimpinan yang akan mempengaruhi kepuasan dan harapan bawahan. Sebab, atasan sering memberikan perintah atau tugas khusus.

“Tipe ini merupakan praktek otoriter. Karena, anggota atau bawahan tidak pernah diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat. Apalagi dalam mengambil keputusan. Namun, gaya seperti ini didasarkan pada kekuatan, kekuasaan dan wewenang. Sebab, atasan selalu memberi petunjuk spesifik untuk kinerja bawahannya,” kata alumni Universitas Indonesia itu.

Menurut Kepala KPPN Tanjungpandan, pemimpin dengan tipe tersebut menganggap kepemimpinannya merupakan hak pribadinya. Sebab mereka berpendapat, bahwa dia dapat menentukan apa saja dalam organisasi, tanpa mengadakan konsultasi dengan bawahannya lebih dulu. Iklim kepemimpinan ini, akan membawa ketegangan.

“Tetapi, sisi positif kepemimpinan direktif, akan efektif diterapkan pada situasi darurat atau situasi baru. Karena, penuh ketidakpastian dan penuh dengan tekanan. Sebab dalam kondisi tersebut, konsultasi dengan bawahan sudah tidak dimungkinkan lagi,” ucapnya.

Halaman selanjutnya