Kendala Penerbitan Paspor, Imigrasi Tanjungpandan Sampaikan Maaf

//Himbau Masyarakat Bikin Paspor Sebelum Beli Tiket
Persyaratan Paspor

BELITUNG – Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjungpandan, Dewanto Wisnu Raharjo menyampaikan permohonan maaf terkait kendala penerbitan Paspor yang terjadi akhir-akhir ini. Ia menjelaskan permasalahan tersebut disebabkan karena perubahan dan pengembangan kesisteman yang ada di pusat. Oleh karena itu, persoalan yang sama terjadi di Kantor Imigrasi, seluruh Indonesia.

“Seperti kita ketahui dengan adanya rute penerbangan internasional maskapai Air Asia dari Tanjung Pandan-Kuala Lumpur (PP), ada peningkatan terhadap permohonan paspor. Disisi lain ada kendala kesisteman di kami. Kendala tersebut terkait pada perubahan kesisteman dari versi 1 ke versi 2,” kata Dewanto Wisnu Raharjo kepada dunieusaha.com, Rabu (16/10) pagi.

Baca juga :

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Tanjungpandan mengatakan, dalam rangka pengembangan Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian versi dua (SIMKIM V.2) tersebut, harus melalui proses terlebih dahulu. Sehingga betul-betul menjadi lancar seperti semula. Namun, sampai saat ini kesisteman dari pusat masih terkendala.

“Untuk itu kami meminta bantuan kepada rekan-rekan media agar memberikan informasi kepada masyarakat. Bahwa pelayanan penerbitan paspor saat ini sedang mengalami keterlambatan sehubungan dengan adanya kegiatan Direktorat Jenderal Imigrasi. Sebab, masih melakukan perawatan sistem informasi keimigrasian,” ujarnya.

Karena itu sambung Wisnu paspor baru dapat diproses untuk cetak setelah turun persetujuan secara online dari server pusat, apabila terkendala pihaknya tidak bisa mencetak Paspor. Sehingga SOP proses penerbitan Paspor selama tiga hari kerja setelah proses pembayaran terkendala. Karena pengembangan dari versi satu ke versi dua itu.

“Dampaknya acak/random. Misalnya ada satu keluarga yang bikin empat orang. Bisa saja yang dua dapat persetujuan dari pusat tepat waktu. Sedangkan, yang lainnya belum bisa. Sehingga yang dua tersebut bisa tercetak dulu. Namun, sekali lagi kesalahan ini bukan pada Imigrasi. Tapi karena permasalahan kesisteman pada Biometric Matching System (BMS). Karena itu persoalan serupa terjadi di Kantor Imigrasi, seluruh Indonesia,” tandasnya.

Halaman selanjutnya